Tuesday, July 29, 2014

Bagian yang hilang

No comments
Deru laju jalan hidupmu puang aji
Pasang surut kehidupan yang kau lalui
Hitam putih, pahit manisnya, yang kau lalui memperjuangkan senyum tawa kami, anak cucumu

Dihari yang lain
Kebersamaan kita terpecahkan oleh hadirnya orang baru dalam keluarga kita
Kita puang aji
Menerima kehadirannya dengan sangat bijaksana

Namun ia membuat perpecahan
Ia memutuskan tali kekeluargaan
Ia merampas sesuatu yang bukan haknya
Ketahuilah puang aji ! kita semua bertanggung jawab

Anak-anakmu mulai melupakanmu
Anak-anakmu tidak memberimu perhatian seperti yang seharusnya
Mereka lupa, atau mungkin mereka tak begitu menganggapmu berjasa bagi mereka
Atau mungkin karena kehadiran orang baru disampingmu membuat mereka acuh terhadapmu

Tapi mengapa mereka semua melakukan ini
Bukankah Ayah tetaplah ayah dan anak tetaplah anak
Saya juga membenci orang baru itu
Tapi bukan berarti kita harus membenci mu puang aji

Kini, disinilah engkau kini
Tergeletak tak berdaya dibalik selimut yang menutupi tubuhmu
Dikelilingi oleh orang-orang yang setengah hati terhadap kehadiranmu dulu
Dan jauh dari orang yang benar-benar tulus menyayangimu

Selamat jalan Puang aji
Kenangan bersamamu akan selalu kuiingat
Jika Allah berkhendak, aku akan memenuhui keinginanmu yang kau katakann dulu
Semoga Allah memaafkanmu, merakhmati, dan melindungimu di Alam sana



Selasa, 29 Juli 2014

Saturday, July 26, 2014

Perulangan

No comments
Kita yang melangkah dipermulaan waktu
Yang telah merasakan penderitaan dan tawa bersama
Kita menciptakan ikatan
Menimbulkan perasaan yang sangat dalam
Kita meratap di balik rintik hujan
Dan tersenyum di antara cahaya bulan yang buram
Lalu kita saling membuat kebohongan
Supaya nampak siapa yang lebih hebat sandiwaranya
Supaya nampak apa yang disembunyikan isi hatinya

Kita telah saling berbagi isi dan inginnya hati kita
Dan dari keingingan itu, terciptalah warna warni dan janji-janji
Maka kenyataan yang manakah yang ingin kamu dustakan ?

Kita telah menciptakan kebahagiaan dari air mata
Dan kita telah menciptakan kepedihan dari buruknya ego
Maka kenyataan yang manakah yang ingin kamu dustakan ?

Kita memelihara cinta dari tempat berdiamnya perasaan
Dan kita memelihara kasih sayang dari tempat tinggalnya keikhlasan
Maka kenyataan yang manakah yang ingin kamu dustakan ?

Kita membiarkan 2 hati merasakan rindu, dan pada kesabaran keduanya bertemu
Antara keduanya, ada isyarat yang masing-masing ingin dipahami
Maka kenyataan yang manakah yang ingin kamu dustakan ?

Dan dari keduanya
Keluar rasa sayang dan perasaan takut akan perpisahan
Maka kenyataan yang manakah yang ingin kamu dustakan ?


29 Ramadhan, 1435 Hijriah
26 Juli 2014 



Friday, July 18, 2014

Materai 6 ribu

No comments
Mari kita anggap hanya aku yang berjalan selama ini
Mari kita anggap mengapa ada orang sepertiku diperbodoh dirinya sendiri
Yang salah mengartikan sesuatu, yang tanpa malu merasa dicintai dan diperhatikan seluruh isi hatinya
Kemudian Mari kita anggap bahwa kenyataannya kamu disitu
Di tempat yang berbeda, Dengan suasana yang berbeda, cerita yang berbeda
Duduk manis diantara buaian pohon kelapa pesisir pantai yang rindang
Melalui hari Indah berwarna melebihi 1000 kosa kata yang menunjukkan rasa gembira yang ada dalam bahasa umat manusia.
Dan mari kita buat kesepakatan bahwa masing-masing diantara kita meyakini
Memahami, dan mengerti dengan sepenuh hati bahwa itulah kenyataan memang terjadi.
Mari kita perkuat pernyataan ini dengan menghapus kalimat "Mari kita Anggap"

Jadi, sepertinya masalahmu kini telah selesai, tersenyumlah, telah kulekatkan Materai 6 ribu untuk pernyataan diatas itu.

Mungkin sebaiknya kita juga harus menyelesaikan masalahku dulu
Oke, Materai 6 ribunya kucabut dulu, jangan khawatir, materainya nanti akan kulekatkan lagi ditempat yang sama.
Jadi aku telah mengatakan ini berulang kali
Tentang keyakinanku, tentang sangkaku, yang meyakini kamu dan aku itu satu
Harimu dan hariku itu satu, bahagiamu dan bahagiaku itu satu
Sedihmu dan sedihku itu satu, mimpimu dan mimpiku itu satu

Kamu selalu tertarik dengan apa yang dikatakan orang
Jadi mari kita dengarkan apa yang dikatakan orang
Bahwa aku bak pembual, dengan ribuan kata menumpuk dikepalaku
Aku berkata begini dan begitu
Membuktikannya pun, aku tak pernah mampu
Jangan tanyakan tentang kesungguhan, itu menyesatkan
Dimana aku harus memberi jawaban terhadap sesuatu yang tak sejalan dengan apa yang aku lakukan
Jika begitu, Jelas aku ini seorang Pembohong sejati, akupun akan memberi penilaian yang sama jika aku hanya menggunakan logika.
Tapi aku mencintaimu dengan hati, sedangkan didalam hatiku timbul gejolak bahwa jauh di dalam sana sebenarnya aku bahkan lebih dari apa yang dikatakan mereka itu

Namun pembuktian dengan hati saja, tak akan cukup bukan ?
Ya, sebagai seorang yang memahami aku sangat mengerti akan hal itu
Biarkan saja, biarkan aku berdiri dan tenggelam dengan keyakinan ini
Aku sudah memberi tahu Tuhan bahwa aku tlah berusaha, Mungkin memang ketetapannya cukup sebatas ini.

Untuk satu hal
Tidak ada, tidak ada satupun yang mengerti akan cerita ini
Tidak ada satu pun diantara mereka tahu tentang semua ini
Jika kamu berpikir aku memberi tahu mereka, menurutku kamu salah
Satu-satunya hal yang mereka pahami adalah seperti saat materai 6 ribu ini kelekatkan kembali
Aku hanya berpikir aku harus mengatakan ini, supaya tidak ada yang tersisa melainkan hal yang baik-baik saja

Okeh, materai 6 ribunya ketempelkan kembali pada tempat semula.

Sunday, July 6, 2014

Cintamu masih lincah melesat

No comments
Disana ada cita dan tujuan
Yang membuatmu jauh kedepan
Dikala malam begitu pekat
Dan mata sebaiknya dipejamkan saja
Cintamu masih lincah melesat
Jauh melampaui ruang dan masa


Lalu disepertiga malam terakhirnya
Engkau terjaga, sadar dan memilih menyalakan lampu
Melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening
Dan cinta yang selalu mendengarkan kata hati

Teruslah melangkah dijalan ini
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban
menyeru kepada iman
Walau duri meruntuhkan kaki
Walau kerikil mencabik telapak
Sampai engkau lelah, sampai engkau payah
Sampai darah dan keringat tumpah

Tetapi yakinlah, bidadarimu selalu tersenyum dijalan cinta para pejuang 


#Di dedikasikan untuk para Pejuang Palestina dan gerakan oposisi Suriah

Wednesday, July 2, 2014

Cerita dari Bapak

No comments
Dahulu aku pernah membenci seseorang, dia adalah Ia adalah keluargaku sendiri
Aku bahkan tak pernah mau berbicara dengannya
Pada suatu malam, ayahku datang menghampiriku seraya duduk di pinggir tempat tidurku

Ayahku : "Angga,  Ayah punya sebuah cerita untukkmu, sebuah kisah nyata ! kau harus mendengarnya"

Aku : "Cerita apa ayah ?"

Lalu ayahku pun bercerita bahwa :

Dahulu ia mempunyai seorang sahabat dekat
Sebut saja Saiman, begitu mereka memanggilnya
Ia sangat menyayangi ibunya, ibunyalah yang selama ini mengurusnya, memanjakannya, dan memenuhi kebutuhannya ..
Disisi lain ia sangat membenci ayahnya, Ayahnya sering memukulnya, mencaci maki dan dan tak memberi warisan kepadanya sedikitpun, kebenciannya dihatinya semakin hari semakin dalam dan lebih dalam lagi ..

Suatu ketika ibunya pun meninggal, dipemakaman pada saat ibunya dimasukkan ke liang lahat, Ia mencoba untuk berusaha menangis namun air matanya terasa sangat sulit keluar dari balik pelupuk matanya ..
Alkisah kini tinggallah hanya mereka berdua, namun kebenciannya terhadap ayahnya tak kunjung memudar, hatinya sudah tak bisa lagi dilunakkan..

Lalu pada Suatu hari Ayahnya pun meninggal, Saiman ketika itu berusia sekitar 40 tahun, dan Ia sangat terkejut ketika tiba saatnya ayahnya dimasukkan ke liang lahat, Ia tak bisa menahan air matanya yang mengucur deras dari pelupuk matanya, ia menangis sejadi-jadinya, bahkan sampai ia kehilangan arah hidupnya ..

SELESAI


Aku : "Ayah, aku tak mengerti maksut cerita itu, memangnya kenapa, apa aku tak boleh membenci si gendut itu (salah satu keluargaku) , hah aku bahkan tak akan menangisi mereka"

Ayahku : "Bukan nak, ini sebuah pelajaran, Saiman didorong oleh rasa kebencian yang dalam terhadap ayahnya, dan kebencian itu mengisi seluruh kehidupan Saiman, hingga saat kebencian itu kehilangan objeknya (dalam hal ini objek kebencian itu adalah ayahnya), ia akan merasa ada yang hilang dari hidupnya, lalu jadilah ia seperti tak punya kehidupan lagi"

Aku : "*********"