Friday, June 26, 2015

Malam ke Sepuluh.

No comments
10 Ramadhan 04.05 Pagi WIB.

Anything Its Different Now.. Gumam nya sambil beranjak dari tempat tidur dengan berat hati.
Hari puasa kesepuluh, hari yang berat buat menjaga konsistensi ibadah. Tidak seperti hari pertama, perjalanan iman seseorang memang terkadang suka naik turun.

But The best, must be give up.

Hari ini hari adalah hari ke sepuluh Riandi berpuasa sendiri. Oke, secara teknis dia tidak sendiri, Ada Raffi Akhmad, Omesh, dan beberapa bintang serial televisi lainnya yang menemaninya saat sahur. Tapi di kehidupan nyata, ramadhan kali ini akan terasa sepi.

Sekitar 8 tahun yang lalu ia pernah bertanya-tanya, siapakah yang akan menemaninya berpuasa di rumah kecil yang mungkin akan ia miliki suatu saat nanti.

Sekitar 6 tahun yang lalu ia pernah bertanya-tanya, apakah perlu membuat meja makan yang cukup untuk banyak orang padahal dia akan tinggal sendiri.

Sekitar 4 Tahun yang lalu ia pernah bertanya-tanya, apakah pantas membangunkan seseorang di waktu sahur, meskipun orang tersebut mengharapkan sapaan Riandi diawal waktu.

Sekitar 2 tahun yang lalu ia pernah bertanya-tanya, bagaimanakah rasa makanan yang buru-buru dia siapkan untuk sahur bersama, meskipun senyuman seseorang saja di atas meja makan cukup menghapus kekhawatirannya.

Sekitar sebelas jam yang lalu ia masih bertanya-tanya, kapankah pekerjaan membungkus sejumlah tas dan kardus berisi pakaian ini akan selesai. Ini baru pakaian saja, belum lagi barang-barang titipan orang yang ingin segera ia antar ke pemiliknya.

Riandi menghela nafas panjang, di aduknya Mie ayam instan yang masih panas. Layar televisi mulai memainkan lagu tema khas bulan ramadhan. Riandi tak bergeming, matanya masih menatap ke arah pojokan kamar. Setumpuk kotak-kotak bertuliskan nama dan alamat pengiriman telah ia susun dengan rapi.

" It's gonna be fucking.. Astaghfirullah. Udah puasa ya. Shit. Duuh Astagfirullah lagi. Goodness! It's gonna be freaking hard!"  , gumam Riandi.

Mie ayam sudah cukup matang untuk dimakan. Tapi Riandi masih terus mengaduk. Nafsu makannya lenyap begitu saja. Ia letakkan mangkuk di meja makan dan mengambil cangkir kosong di lemari.

" Damn it, aduhh ya Allah, sorry. I mean, sialan! ini kenapa belum masuk kardus sih".

Dada Riandi tiba-tiba terasa sesak, cangkir itu masih dipegang dengan erat. Teringat lagi saat mereka membeli perabotan bersama, sampai ke ujung timur indonesia. Semakin erat pula genggaman tangan Riandi di cangkir itu.

Lalu terdengar suara sms masuk di ponsel, Terkesiap, Riandi lansung meletakkan cangkir itu di atas meja.

Nama ayah Riandi terpampampang di layar. Riandi melihat sepintas isi sms yang terpotong. Slide to View.

Riandi menggigit bibir saat membaca pesan panjang itu.
Dia tersenyum menahan haru air matanya.

Dia balas : "Insya Allah pak ".

-  -  -  -  -  -  -  -  -


10 Menit Sebelumnya, 10 Ramadhan 03.15 Pagi WITA.

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Akhmad menolehkan kepalanya ke kanan, mengakhiri sholat tahajud. Dia duduk, terpekur sesaat, sebelum melihat jam dinding. Pukul 03:15 pagi. Oh, masih jam tiga, pikirnya. Dia lanjutkan berdoa.
Tiba-tiba dia tersadar.

Masya Allah, jam 3 pagi!”

Buru-buru dia berdiri dan merapikan sajadah. Setengah berlari dia pergi ke dapur. Sampai di sana, satu panci dan satu wajan sama-sama mengeluarkan asap. Akhmad heran, siapa yang masak?
Mari, pak. Sahurnya sebentar lagi siap.”
Mbok Parmi, masih mengenakan mukena, mematikan kompor. Akhmad hanya mengangguk dan mengucapkan “terima kasih” dengan lirih.
Di meja makan, supirnya, Darwis, sudah menyiapkan piring dan gelas. Masing-masing hanya ada satu piring, satu sendok, satu garpu dan satu gelas. Kursi makan yang lain pun sudah disingkirkan Darwis, hanya menyisakan satu kursi untuk majikannya.

“Ayo, pak. Saya makan di dapur nanti sama Parmi.”
Akhmad menarik kursi. Ada yang terasa janggal buat Akhmad. Padahal sudah lebih dari empat puluh Ramadhan dia lalui.
Dia nyalakan televisi, tapi dia matikan lagi.
Dia bangkit menuju musholla mengambil Al Qur’an.
Namun langkahnya terhenti di ruang tamu.
Di situ terpampang foto keluarga Akhmad. Foto yang diambil waktu Lebaran 21 tahun lalu. Saat itu kakak pertamanya sedang hamil besar, Kakak tertuanya akan pindah ke luar kota, dan anak laki-laki pertamanya tengah siap memasuki sekolah Dasar.

Di foto itu ada seorang perempuan lain yang menggamit lengan Akhmad. Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum yang tak pernah berubah dari saat mereka bersanding di pelaminan.
Senyuman yang sekarang hanya bisa Akhmad lihat dari foto itu, dan foto-foto lainnya. Senyuman yang membuat benda mati seperti foto lama masih terasa hidup.

Paling tidak itu yang Akhmad katakan untuk menghibur dirinya.
“Mah …”, tutur Akhmad, nyaris tak terdengar.

Panggilan sayang Akhmad untuk perempuan itu selama lebih dari dua puluh enam tahun.
Panggilan sayang Akhmad untuk perempuan yang tak pernah alpa menyiapkan sahur untuk Akhmad, meskipun tak pernah ada kewajiban baginya untuk mengikuti dan menjalani apa yang Akhmad tekuni.
Panggilan sayang Akhmad untuk perempuan yang dia ucapkan saat Akhmad menciumnya dua puluh satu tahun yang lalu, yang merupakan ciuman terakhir di antara mereka.

Akhmad menghela nafas panjang. Dia merebahkan badan di kursi ruang tamu. Dia tengadahkan kepalanya, menerawang ke langit-langit rumah. Dia ingat-ingat lagi, semua makanan yang pernah Akhmad santap selama sahur hampir empat dekade ini. Semua yang istrinya siapkan semalam sebelumnya. Semua yang selalu tersaji hangat. Kini hanya mata Akhmad yang terasa hangat, karena ada yang jatuh menetes di pipi.

“Pak, sahurnya sudah siap.”
Akhmad menyeka matanya. Dia berdiri menuju meja makan. Saat dia duduk dan mulai membuka piring, ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda pesan masuk. Rupanya ibu, beberapa saudara kandung Akhmad dan anaknya yang paling kecil sudah meninggalkan pesan selama dia sholat tadi. 

Dibacanya satu per satu. Ada yang aneh. Tidak ada pesan masuk dari anaknya yang paling tua, Riandi.
Tapi Akhmad paham. Di antara kedua anaknya, Riandi yang paling jarang berkomunikasi. Sebulan sekali sudah cukup. Itu pun kalau mereka sama-sama ingat. Seakan ada bagian dari hidup Riandi yang tidak ingin dia sampaikan ke ayahnya, meskipun Akhmad mengetahui segalanya.

Akhmad membalas pesan-pesan dari ibu dan beberapa saudara perempuannya, yang dia yakin masih belum bangun, karena perbedaan waktu.
Tapi Riandi?
Akhmad terdiam sejenak.

Lalu dia tulis:

Assalamualaikum, Ndi. Jangan lupa sahur. Papa juga sudah mulai sahur hari ini.”

Akhmad terdiam lagi. Jarinya sudah siap memencet send. Namun dia lanjutkan menulis pesan :

“Ini bukan puasa pertama Papa tanpa Mama kamu. Dan insya Allah Papa siap. Puasa itu yang tahu cuma kamu sama Allah. Papa ndak tau kamu sebenarnya puasa apa ndak, kamu juga ndak tau puasa Papa gimana. Meskipun selama ini kita puasa didampingi orang yang kita cintai atau sayangi, tapi kalau kita memang niat puasa karena ibadah, meskipun orang yang kita cintai sudah pergi, pasti ibadah akan tetap dilancarkan. Jangan lupa minum madu supaya sehat ya, Ndi. Wassalamualaikum.”

Send.

Beberapa detik kemudian, Akhmad melihat tulisan Read di layar ponsel.
Akhmad tersenyum.
Alhamdulillah.”

:)

Friday, June 19, 2015

Terlalu Sering Kalah Itu tidak Baik

No comments


Malam ketiga dibulan Ramadhan ini, menggenapkan 50 hari semenjak pertama kali aku menginjakkan kaki pertama kalinya di Kota ini. Sedikit berbasa-basi, sebenarnya 50 hari yang kulalui ini rasanya sudah seperti perjalanan tanpa tujuan, aku tetap berkata seperti ini meskipun aku, kamu, atau kita pada umumnya sudah tahu bahwa tidak ada yang pasti merupakan satu-satunya kepastian didunia ini, dimana pernyataan itu mematahkan pernyataan itu sendiri. Jadi apa sebenarnya yang kuharapkan disini? Tidak ada.

Langkah baruku dikota ini merupakan amanat kedua yang diembankan kepadaku setelah sebelumnya aku berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah vokasi disalah satu perguruan tinggi di kotaku yang sebelumnya. 50 hari lamanya aku disini, selama itu pula banyak tanda Tanya bermain di pikiranku. Ia melompat-lompat tak beraturan, menari diatas pengharapan yang entah (mungkin) apakah yang Di Atas sana akan meng-Iyakan..Iya Tuhan disini, bahkan dimanapun (tiba-tiba) menjadi seperti titik pusat tumpuan segala keinginan yang sedang menunggu proses menuju terjawabnya semua pertanyaan.
Sejujurnya aku lelah, takut, bimbang, dan ragu dengan jalan yang kulalui, Semangatku yang dulunya kian ber-api-api kini mulai padam, Agility yang pada realitanya berbanding terbalik dengan tingkat kemampuan otakku mencerna materi yang dipersyaratkan, Nyali menciut..Ia ngeri pada saat itu, ia tak sanggup lagi bersabar, tapi aku mau agar ia tetap bertahan dulu, aku yakin ini hanya masalah waktu. Aku mau ia bersabar sampai otak menemukan solusi untuk hati, aku tahu otak pasti mampu..semoga !

Tapi aku mungkin lupa, bahwa semakin kesini semangat sudah semakin memudar. Manusia tidak salah, keadaanlah yang memperburuk suasana. Jarak yang dicipta terlampau jauh dari batas langkah kaki yang mampu ditapak, Tuhan yang seharusnya menjadikan titik tumpuan pengharapan malah selama ini telah kuletakkan entah dimana..waktu yang sedikit dipergunakan untuk hal-hal kecil yang “aku mulai berpikir” itu lebih penting daripada bermimpi, sia-sia, mubazir, ngabisin waktu, omong-kosong, adalah definisi bermimpi saat ini.



Ramadhan, 03, 1436 H / June 19, 2015