Jika saja ada kendaraan yg memiliki kecepatan yang sama
seperti kecepatan cahaya, atau Tuhan yang maha bijaksana berkenan
memimjamkan Bouraq yang digunakan Rasul SAW melakukan perjalanan Isra
Miraj. Pasti akan sangat berguna bagiku. Setidaknya untuk Kita. Benarkah ?
Untuk apa ? Untuk memperlambat waktu kah ? atau ingin memutar waktu kembali surut kebelakang. Tentu saja untuk mengulang dan memperbaiki kembali kesalahan-kesalahan kita yang telah lalu. Atau mungkin kita bisa mendiskusikannnya sekarang, agar setelah waktu berjalan mundur ke belakang, kita akan memulai kembali semuanya tanpa kesalahan.
Untuk apa ? Untuk memperlambat waktu kah ? atau ingin memutar waktu kembali surut kebelakang. Tentu saja untuk mengulang dan memperbaiki kembali kesalahan-kesalahan kita yang telah lalu. Atau mungkin kita bisa mendiskusikannnya sekarang, agar setelah waktu berjalan mundur ke belakang, kita akan memulai kembali semuanya tanpa kesalahan.
Namun semua itu percuma. Marilah berpikir realistis, bahwa sekalipun kita mampu menciptakan kendaraan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, Teori Relatifitas menjelaskan bahwa perubahan terhadap waktu hanya terjadi pada benda tersebut, bukan keadaan disekitar. Jadi rencana kita (?) untuk memutar kembali waktu akan sia-sia tanpa membawa serta seluruh objek yang ada disekitar, dengan kata lain kita harus mengikut sertakan Bumi kedalam kendaraan kita. Sudah pasti itu mustahil bukan ?
Opsi kedua mungkin kita akan berharap bahwa Tuhan akan berbaik hati meminjamkan Bouraq yang digunakan Rasul SAW. Namun Tuhan sudah pasti tak akan meminjamkan Bouraq itu pada kita, sebab sangat egois jika kita memutar waktu hanya untuk kebahagiaan dua orang sedangkan ada banyak orang didunia ini yang mempunyai masa lalu yang buruk dan tak ingin ia ulangi. Atau bisa jadi akan ada demonstrasi besar-besaran di alam kubur bahwa mereka yang telah ditakdirkan mati akan meminta dihidupkan kembali, sehingga bisa menebus kesalahan mereka. Ini akan kacau sebab tidak menutup kemungkinan seluruh ras manusia dari generasi pertama, zaman nabi Nuh hingga detik ini akan meminta hal yang serupa. Jika begitu Iblis dan Neraka akan merana disebabkan umat manusia seluruhnya masuk syurga. Bahkan Nabi Adam pun pasti akan meminta waktu diputar pada saat ia dan Hawa berencana memetik buah khuldi disyurga sehingga ia bisa menolak memakan buah tersebut. Tidak ! ini menyalahi takdir Tuhan atas Adam dan seluruh umat manusia, ini tidak akan terjadi.
Jadi untuk apa kita membahas mengenai perputaran waktu ini sedangkan faktanya usaha seperti itu hanya akan berujung sia-sia. Bukan bukan, bukan seperti itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa mari lupakan soal kesalahan-kesalahan di masa lalu, Bukankah belum terlambat bagi kita memperbaiki semuanya sekarang. Madsudku dengan tidak mengabaikan apa yang telah kita lalui di masa lalu, Bukankah ini adalah kesalahan kita bersama, mengapa tidak kamu perbaiki kesalahanmu dan aku pun memperbaiki kesalahanku. Sederhana saja sebenarnya namun akan tetap sulit. Sebab dari sudut pandang kamu akulah yang bersalah, dan dari sudut pandangku kamulah yang bersalah, hingga yang terjadi kita masing-masing menunggu siapa yang duluan memulai memperbaiki kesalahan.
Ini juga sekaligus menjadi sebuah pertanyaan, siapa yang akan memulai duluan ? Aku, Kamu, ah saya rasa kamu yang harus duluan. Dan saya yakin kamu pasti mau bilang saya yang harus duluan. Namun untuk melakukan itu, aku sudah tidak percaya lagi, tidak percaya ! sebab yang kamu inginkan adalah mengulang, bukan memperbaiki.
